Penelitian ini mengkaji dialektika kearifan lokal dan etika berbahasa Indonesia di tengah pergeseran bahasa pada masyarakat adat. Menggunakan metode kualitatif integrative literature review dengan kerangka struktural fungsional Talcott Parsons (AGIL), kajian ini mensintesis dinamika kebahasaan di komunitas Baduy, Bali, dan Madura. Hasil menunjukkan bahwa masyarakat adat merespons hegemoni bahasa nasional bukan dengan resistensi, melainkan melalui strategi adaptasi sistemik: kedwibahasaan untuk mempertahankan kesantunan, tabu bahasa untuk harmoni ekologis, dan orkestrasi tokoh adat serta folklor untuk transmisi nilai antargenerasi. Temuan fundamental merekonstruksi konsep berbahasa “baik dan benar” dari kepatuhan gramatikal semata menjadi ketepatan kontekstual dan kesantunan moral. Kearifan lokal bertransformasi menjadi fondasi etika yang memperkaya bahasa Indonesia, mengubahnya dari alat asimilasi menjadi medium ekspresi identitas yang mulia. Implikasinya, kebijakan pedagogis harus mengintegrasikan leksikon kebudayaan dan tradisi lisan ke dalam pendidikan karakter, memastikan generasi penerus tidak hanya kompeten secara linguistik, tetapi juga berakar kuat pada identitas kebangsaan.
Copyrights © 2026