Penelitian ini bertujuan untuk memahami tradisi slametan dalam perspektif teori interaksionisme simbolik Herbert Blumer, dengan fokus pada bagaimana individu berinteraksi dan memberi makna pada simbol-simbol yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kerangka teori ini, simbol-simbol seperti doa, makanan, dan rangkaian ritual yang terdapat dalam tradisi slametan bukan hanya dipandang sebagai media komunikasi, tetapi juga sebagai representasi dari keyakinan, identitas, dan realitas sosial masyarakat Jawa. Melalui pendekatan ini, tradisi slametan dapat dilihat sebagai proses interaksi simbolik yang menghasilkan pemahaman kolektif yang terus berkembang dalam masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi slametan menjadi ruang interaksi di mana makna sosial dibentuk melalui proses dialog antar individu dan kelompok secara sadar dan berulang. Pemahaman kolektif yang terbentuk dalam tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Jawa menjaga dan mengembangkan nilai-nilai sosial serta budaya mereka secara dinamis. Tradisi slametan juga berfungsi sebagai mekanisme untuk memperkuat kohesi sosial, mempererat hubungan antar individu, serta menjadi sarana untuk menyampaikan harapan dan doa bersama. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang bagaimana ritual-ritual tradisional dapat mempertahankan keberlanjutan nilai-nilai budaya dalam konteks sosial yang terus berubah, serta menunjukkan relevansi tradisi dalam membentuk identitas sosial masyarakat Jawa yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Copyrights © 2026