Bambu Ampel (Bambusa Vulgaris) merupakan salah satu spesies bambu yang berpeluang dijadikan material konstruksi. Berdasarkan ukurannya, penggunakan bambu ampel lebih cenderung kepada struktur bambu utuh dari pada dijadikan bahan laminasi bambu. Disisi lain, jarak minimum menjadi hal yang kritis dalam pertimbangan sebuah sistem sambungan bambu. Hal ini sering menjadi kendala utama dalam aplikasi konstruksi bambu. Dilapangan, tentunya tidak dapat dipastikan pada semua bagian sambungan adalah batang bambu yang mempunyai ruas sehingga perlu dilakukan kajian pada kondisi ekstrim yaitu pada kondisi batang bambu yang tidak memiliki ruas pada bagian ujung batangnya. Pembuatan dan pengujian benda uji dilakukan dengan merujuk pada standar ISO 22157-2019. Dalam penelitian ini, dua sifat mekanik bambu yang menjadi dasar dalam penentuan jarak baut pada batang Bambu Ampel adalah kekuatan geser ada tumpu. Berdasarkan hasil pengujian sifat fisik, diketahui bahwa kadar air bambu kecil dari 15%. Nilai ini memenuhi persyaratan dilanjutkannya pengujian sifat mekanik tanpa melakukan pengeringan ulang pada specimen uji. Hasil pengujian mekanik menunjukkan nilai kuat geser dan tumpu masing-masing adalah 8,01 MPA dan 40,35 MPa. Dari hasil analisis, didapatkan jarak minimum baut pada batang Bambu Ampel yang ujung batangnya tidak ada ruas adalah 5,03 kali diameter baut. Dibandingkan dengan jenis bambu lainnya jarak minimum baut pada batang Bambu Ampel menunjukkan hasil yang berkesesuaian terutama dengan jarak minimum baut pada ujung batang Bambu Petung yang tidak memiliki ruas.
Copyrights © 2026