Maraknya konten quotes emosional di TikTok menunjukkan kecenderungan normalisasi penderitaan perempuan sebagai bagian dari identitas digital. Bahasa reflektif, religius, dan afektif dalam konten tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan atau motivasi, tetapi juga membentuk cara pandang audiens terhadap kesehatan mental dan ketangguhan perempuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana wacana mental illness perempuan dikonstruksi dalam konten quotes TikTok serta bagaimana posisi kreator dan audiens dibentuk melalui bahasa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan Analisis Wacana Kritis model Sara Mills terhadap konten quotes dari akun TikTok @kmlsca yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung diposisikan sebagai subjek yang mengalami penderitaan namun dinormalisasi sebagai bentuk kekuatan, sementara audiens diarahkan untuk memvalidasi dan mereproduksi wacana tersebut. Temuan ini mengungkap adanya romantisasi kesedihan dan komodifikasi emosi dalam budaya digital TikTok.
Copyrights © 2026