Konflik keluarga merupakan fenomena yang masih sering terjadi di Indonesia, baik dalam bentuk kekerasan verbal, psikologis, maupun fisik yang kerap dinormalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Film sebagai media representasi memiliki peran penting dalam merefleksikan sekaligus mengonstruksi realitas sosial tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi konflik keluarga dalam film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis karya Reka Wijaya melalui pendekatan semiotika Roland Barthes yang mengkaji makna pada tingkat denotasi, konotasi, dan mitos. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi nonpartisipan dan dokumentasi terhadap adegan, dialog, serta gestur yang merepresentasikan konflik keluarga. Hasil penelitian pada tingkat denotasi dan konotasi menunjukkan adanya eskalasi pola konflik berulang (perpetual conflict) dari kekerasan verbal hingga fisik yang merefleksikan ketimpangan kuasa, trauma, serta hilangnya rasa aman korban. Temuan ideologis mendasar pada tingkat mitos membongkar bagaimana film ini mereproduksi sekaligus mendekonstruksi ideologi patriarki yang menempatkan figur ayah sebagai otoritas mutlak serta melegitimasi kekerasan sebagai instrumen pendisiplinan. Implikasinya terhadap kajian gender politics di Indonesia ditunjukkan melalui kehadiran mitos tandingan (counter-myth), di mana keputusan korban untuk keluar dari relasi yang abusif menjadi bentuk pendistribusian ulang relasi kuasa yang setara sekaligus perlawanan nyata terhadap normalisasi kekerasan domestik demi tuntutan keutuhan keluarga. Penelitian ini menegaskan pentingnya membangun komunikasi keluarga yang empatik, terbuka,dan bebas dari kekerasan serta menunjukkan bahwa film dapat menjadi media kritik sosial yang transformatif bagi penguatan hak-hak perempuan dan anak di ranah domestik.
Copyrights © 2026