Integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam administrasi kesehatan menawarkan efisiensi besar namun memicu risiko "halusinasi medis" dan bias keputusan akibat data rekam medis elektronik (RME) yang tidak terstruktur, sementara kompetensi pustakawan medis masih terisolasi dari tata kelola RME. Penelitian ini bertujuan merumuskan model tata kelola informasi baru yang mentransformasikan peran pustakawan medis menjadi Data Steward guna memitigasi risiko operasional AI di rumah sakit. Menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol PRISMA pada pangkalan data PubMed, Scopus, dan Web of Science, terpilih 10 artikel final untuk dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pustakawan medis telah bermutasi menjadi Health Data Steward yang mengawal prinsip FAIR pada aset digital faskes. Penerapan kontrol kosakata standar NLM (MeSH dan UMLS) terbukti efektif mengonversi teks klinis bebas menjadi data terstruktur sekaligus mengatasi hambatan interoperabilitas semantik. Lebih lanjut, kurasi hibrida berbasis manusia (human-in-the-loop) memposisikan unit informasi sebagai Scientific Provenance Authority yang menyaring basis pengetahuan sebelum diproses mesin demi menekan bias komputasi. Kesimpulannya, sinergi lintas disiplin antara Sains Informasi dan Administrasi Kesehatan melahirkan tata kelola proaktif, di mana reorientasi peran pustakawan medis menjadi kunci utama dalam menjamin keamanan data pelatihan AI serta melindungi keselamatan pasien di era digital.
Copyrights © 2026