Dinamika media sosial telah mengubah lanskap komunikasi kontemporer, khususnya di kalangan Generasi Z selaku kelompok digital natives. Pemanfaatan ruang siber yang tinggi di satu sisi mempermudah akses informasi, sosialisasi, dan ekspresi diri, namun di sisi lain melahirkan kompleksitas pelanggaran moral seperti hoaks, hate speech, ghibah digital, fitnah, perundungan siber, dan pelecehan fisik (body shaming). Riset ini diarahkan untuk menganalisis paradigma etika komunikasi digital berbasis hadis Nabi dan korelasinya dengan perilaku bermedia Generasi Z. Desain metodologis yang diterapkan adalah kualitatif berjenis riset pustaka (library research) dengan menempatkan teks hadis bertema etika komunikasi sebagai data primer, serta kitab syarah hadis dan literatur akademis sebagai data sekunder. Melalui teknik dokumentasi, data yang dihimpun dibedah dengan analisis isi (content analysis) serta pendekatan hadis tematik. Hasil analisis menunjukkan bahwa teks-teks hadis menawarkan panduan komprehensif dalam berinteraksi di dunia maya, tecermin dari prinsip kontrol ucapan, kewajiban verifikasi data (tabayyun), larangan merusak reputasi orang lain, dan sikap amanah terhadap informasi. Ajaran ini sangat responsif dalam menjawab problem siber Generasi Z. Aktualisasi nilai-nilai tersebut menuntut penguatan literasi digital Islami, komunikasi santun, budaya konfirmasi, serta tanggung jawab digital. Dengan demikian, hadis Nabi menjadi pijakan normatif penting untuk mengonstruksi budaya siber yang bijak, bertanggung jawab, dan berakhlak mulia.
Copyrights © 2026