Rendahnya pemahaman ibu balita mengenai praktik Makanan Pendamping ASI (MPASI) dan minimnya pemanfaatan protein hewani lokal menjadi akar masalah tingginya kasus stunting di Desa Tlogo, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo, dengan 289 kasus tercatat pada Oktober 2025, namun baru 36 kasus (12,5%) tertangani. Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi jendela kritis intervensi gizi, khususnya melalui pemberian MPASI yang tepat. Sebagai solusi, kegiatan pengabdian ini menawarkan model intervensi terpadu yang mengintegrasikan penyuluhan, demonstrasi memasak, dan media edukasi cetak dalam satu rangkaian Posyandu pendekatan yang belum banyak dikaji secara terintegrasi pada konteks serupa. Program dilaksanakan pada 20 Januari 2026 di Balai Dukuh Plintaran melalui tiga tahapan: penyuluhan oleh ahli gizi UPTD Puskesmas Sukoharjo II, demonstrasi memasak nasi tim hati ayam, dan pembagian booklet variasi menu MPASI tujuh hari kepada ±20 ibu balita usia 6 bulan–2 tahun. Hasil observasi kualitatif menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap penyebab dan strategi pencegahan stunting, ditandai meningkatnya kedalaman pertanyaan serta antusiasme mengolah bahan pangan lokal menjadi MPASI bergizi terjangkau; namun perubahan ini belum diukur melalui instrumen kuantitatif terstruktur. Pendekatan edukasi aplikatif berbasis demonstrasi langsung terbukti efektif secara observasional, dan booklet menjadi panduan keberlanjutan praktik di rumah. Kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan program ini.
Copyrights © 2026