Bencana merupakan rangkaian peristiwa yang mengancam kehidupan dan penghidupan masyarakat, disebabkan oleh faktor alam, non-alam, dan manusia. Salah satu bencana yang kerap terjadi di indonesia adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah Sumatera. Salah satunya terjadi pada tahun 2023 di Kecamatan Silaut, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, yang melanda lahan gambut dan kebun sawit masyarakat. Penelitian ini dilakukan sebagai salah satu upaya pemanfaatan data geospasial, yaitu citra penginderaan jauh sensor aktif Sentinel-1A dan data hotspot VIIRS NOAA-20 dalam mitigasi bencana karhutla.Hasil penelitian menunjukkan luas area terbakar sebesar 255 hektar berdasarkan nilai threshold -1,377 dB, yang berada dalam area buffer dan dikonfirmasi oleh sebaran 46 titik hotspot VIIRS NOAA-20 yang bertampalan secara spasial dengan area yang diklasifikasikan terbakar. Citra penginderaan jauh sensor aktif dipilih karena dapat memantau area karhutla tanpa terpengaruh oleh gangguan asap. Metode yang digunakan mencakup preprocessing citra SAR (Apply Orbit File, Speckle Filtering, Terrain Correction, dan konversi nilai linear ke dB), perhitungan Radar Burned Difference (RBD), dan validasi dengan sebaran hotspot VIIRS NOAA-20. Validasi data hotspot akan menunjukkan hubungan spasial yang kuat antara nilai RBD negatif dan hotspot yang memperkuat interpretasi hasil pengolahan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan area terdampak kebakaran di Silaut dengan overlay zona buffer (375 meter) dari data hotspot VIIRS NOAA-20 yang digunakan sebagai area estimasi luas sebaran kebakaran.
Copyrights © 2026