Formasi spiritual anak usia dini merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter Kristiani, namun implementasinya dalam konteks Sekolah Minggu sering menghadapi tantangan akibat keterbatasan rentang perhatian, pola pikir yang konkret, dan karakteristik perkembangan anak usia 3–6 tahun. Kondisi ini menuntut guru Sekolah Minggu untuk menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak agar kebenaran teologis dapat dipahami dan diinternalisasi secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji relevansi prinsip-prinsip Montessori terhadap formasi spiritual anak usia dini serta merumuskan kerangka konseptual dan implikasinya bagi guru Sekolah Minggu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan yang bersumber dari buku karya Maria Montessori, jurnal ilmiah, buku serta dokumen pendidikan Kristen. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan dianalisis secara deskriptif menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat prinsip Montessori yang relevan untuk mendukung formasi spiritual anak usia dini 3-6 tahun, yaitu Absorbent Mind dengan pengulangan kegiatan rohani, Sensitive Period dengan internalisasi iman melalui dimensi afektif, Prepared Environment dengan pengalaman konkret di lingkungannya, serta Prepared Teacher melalui relasi dengan guru yang mengasihi Tuhan. Berdasarkan sintesis literatur, penelitian ini menawarkan kerangka konseptual yang menjadi rujukan teoretis bagi guru Sekolah Minggu dalam memahami dan memaknai formasi spiritual anak usia dini usia 3–6 tahun.
Copyrights © 2026