Literasi sains merupakan kompetensi esensial untuk membentuk masyarakat yang responsif terhadap isu lingkungan dan kemajuan teknologi. Mahasiswa calon guru IPA memegang peran kunci dalam mewujudkan generasi melek ilmiah, sehingga penguasaan domain literasi sains yang komprehensif menjadi keharusan. Penelitian survei deskriptif kuantitatif ini mengeksplorasi persepsi literasi sains 216 mahasiswa calon guru di wilayah Bali, Lombok, dan Nusa Tenggara Timur yang berasal dari lima institusi pendidikan.Temuan menunjukkan bahwa secara umum persepsi responden berada pada kategori "baik" (98,6%). Namun, domain "etika sains" memerlukan perhatian khusus karena 20,4% responden masih berada pada kategori "rendah". Rendahnya pemahaman pada domain ini berisiko menciptakan pemisahan antara sains modern dan nilai-nilai etnosains (kearifan lokal). Tanpa dasar etika sains yang kuat, calon guru cenderung menganggap kearifan lokal sekadar tradisi budaya dan bukan ilmu pengetahuan yang valid, sehingga gagal mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran kontekstual. Hal ini menegaskan bahwa penguatan etika sains dalam kurikulum persiapan guru sangat krusial untuk memastikan efektivitas pendidikan sains yang mampu menjembatani ilmu pengetahuan dengan realitas sosial-budaya siswa.
Copyrights © 2026