Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dinamika sosial-politik terhadap peta persaingan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Provinsi Sumatera Utara. Di tengah saturasi lembaga pendidikan tinggi, strategi kompetisi tidak lagi terbatas pada aspek akademik, melainkan bergeser pada penguatan modal sosial dan jaringan politik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada beberapa PTS di wilayah Medan dan sekitarnya. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen kebijakan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PTS yang berafiliasi kuat dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan besar dan aktor politik lokal memiliki daya tahan serta tingkat pertumbuhan jumlah mahasiswa yang lebih stabil dibandingkan PTS independen. Hal ini disebabkan oleh kemampuan lembaga dalam mengonversi identitas primordial dan akses birokrasi menjadi legitimasi sosial di mata masyarakat. Namun, ketergantungan pada patronase politik berisiko memicu komodifikasi pendidikan yang mengabaikan peningkatan kualitas riset dan inovasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun faktor sosial-politik menjadi variabel penentu keunggulan kompetitif di Sumatera Utara, keberlanjutan institusi dalam jangka panjang tetap memerlukan integrasi antara kekuatan jaringan dengan tata kelola akademik yang transparan. Rekomendasi penelitian diarahkan pada pentingnya kemitraan strategis lintas sektor untuk mengurangi ketergantungan pada politik praktis. This study aims to analyze the influence of socio-political dynamics on the competitive landscape of Private Higher Education Institutions (PTS) in North Sumatra Province. Amidst the saturation of higher education institutions, competitive strategies are no longer limited to academic aspects, but have shifted to strengthening social capital and political networks. This study uses a descriptive qualitative method with a case study approach at several private higher education institutions in Medan and its surrounding areas. Data collection was conducted through in-depth interviews, observations, and analysis of local policy documents. The results show that private higher education institutions strongly affiliated with large religious community organizations (ormas) and local political actors have more resilience and a more stable student growth rate than independent private higher education institutions. This is due to the institution's ability to convert primordial identity and bureaucratic access into social legitimacy in the eyes of the community. However, dependence on political patronage risks triggering the commodification of education that neglects improving the quality of research and innovation. This study concludes that although socio-political factors are determining variables for competitive advantage in North Sumatra, long-term institutional sustainability still requires integration between network strength and transparent academic governance. Research recommendations are directed at the importance of strategic cross-sector partnerships to reduce dependence on practical politics.
Copyrights © 2025