Kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika merupakan salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki siswa sekolah dasar karena berkaitan dengan kemampuan memahami masalah, merencanakan penyelesaian, serta menerapkan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini dilaksanakan di SDN 22 Kota Bima pada semester genap Tahun Ajaran 2025/2026. Namun, masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita sehingga kepercayaan diri dan regulasi diri menjadi aspek yang perlu dikaji hubungannya dengan kemampuan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kepercayaan diri dan regulasi diri dengan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika serta mengidentifikasi hubungan aspek demografi siswa terhadap kemampuan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 40 siswa kelas V dan VI SDN 22 Kota Bima yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui angket kepercayaan diri, angket regulasi diri, dan tes kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika. Analisis data menggunakan uji Korelasi Spearman Rank, Regresi Quantile, Mann-Whitney, dan Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan diri memiliki hubungan positif yang signifikan dengan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika (r = 0,509; p = 0,001), sedangkan regulasi diri juga menunjukkan hubungan positif yang signifikan (r = 0,593; p = 0,000). Analisis Regresi Quantile menunjukkan bahwa kedua variabel secara simultan menjelaskan variasi kemampuan menyelesaikan soal cerita sebesar 15,4% (Pseudo R² = 0,154), namun belum signifikan secara statistik. Berdasarkan aspek demografi, hanya usia yang menunjukkan hubungan signifikan terhadap kemampuan menyelesaikan soal cerita (p = 0,003), sedangkan gender dan status ekonomi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa kepercayaan diri dan regulasi diri berkaitan dengan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika, meskipun masih terdapat faktor lain yang lebih dominan memengaruhi kemampuan tersebut. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi guru dalam merancang pembelajaran matematika yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan konsep, tetapi juga memperhatikan pengembangan aspek psikologis siswa.
Copyrights © 2026