Batik Belanda merupakan salah satu produk batik pesisir yang berkembang di pesisir utara Jawa, seperti Pekalongan, pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, dan umumnya dikaitkan dengan estetika feminin serta selera kolonial kelas menengah. Namun, keberadaan Batik Belanda bermotif militer menunjukkan makna visual yang lebih kompleks dan belum banyak dibahas. Artikel ini bertujuan mengkaji makna visual figur prajurit, kapal perang, dan mesin transportasi militer dalam Batik Belanda, serta bagaimana simbol-simbol tersebut dinegosiasikan dalam konteks produksi dan konsumsi kolonial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-interpretatif dengan metode observasi visual terhadap artefak batik di Museum Batik Pekalongan, Museum Batik Indonesia, Museum Danar Hadi Solo, dan Museum Tekstil Jakarta, serta didukung oleh studi pustaka dan analisis ragam hias. Pembahasan difokuskan pada pola repetisi, keteraturan visual, pembagian kepala dan badan batik, serta hubungan motif dengan fungsi kain sebagai objek pakai. Hasil kajian menunjukkan bahwa simbol militer tidak ditampilkan melalui narasi konflik atau heroisme, melainkan sebagai citra yang tertata, berulang, dan bersifat dekoratif. Repetisi dan ragam hias berperan dalam menormalkan kehadiran kekuasaan kolonial sebagai bagian dari pengalaman visual sehari-hari. Kekerasan dan daya rusak mesin perang disamarkan melalui stilisasi, siluet, dan integrasi dengan motif flora. Artikel ini menyimpulkan bahwa Batik Belanda bermotif militer berfungsi sebagai medium negosiasi visual antara produksi, pasar, dan selera kolonial, serta sebagai arsip visual yang merekam kehadiran kekuasaan secara halus dan tidak secara konfrontatif. Kajian ini diharapkan dapat memperkaya pembacaan Batik Belanda sebagai artefak estetis yang memuat praktik budaya.
Copyrights © 2026