Natrium diklofenak merupakan obat antiinflamasi nonsteroid (AINS) yang digunakan untuk mengatasi nyeri dan peradangan. Namun, penggunaan secara oral memiliki beberapa keterbatasan, seperti kelarutan yang rendah, waktu paruh relatif singkat, serta risiko efek samping gastrointestinal akibat iritasi lambung dan efek first-pass metabolism. Oleh karena itu, pengembangan sediaan injeksi menjadi alternatif yang lebih efektif karena mampu memberikan onset kerja lebih cepat dan meningkatkan bioavailabilitas obat. Artikel ini bertujuan untuk membandingkan berbagai formula sediaan injeksi natrium diklofenak berdasarkan rute pemberian, meliputi intravena (IV), intramuskular (IM), subkutan (SC), dan intraartikular, serta mengevaluasi karakteristik dan hasil formulasi yang telah dikembangkan. Metode yang digunakan berupa narrative review terhadap artikel ilmiah yang dipublikasikan dalam rentang tahun 2015–2025. Literatur diperoleh dari database Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, dan ResearchGate menggunakan kata kunci “diclofenac sodium”, “injection”, “formulation”, dan “parenteral route”. Hasil kajian menunjukkan bahwa perbedaan jenis eksipien, sistem penghantaran obat, serta metode sterilisasi berpengaruh terhadap karakteristik fisik dan kimia sediaan, seperti kejernihan, pH, viskositas, sterilitas, dan profil pelepasan obat. Sediaan intramuskular diketahui memiliki efektivitas tinggi dengan toksisitas rendah, sedangkan sediaan subkutan mampu memberikan pelepasan obat yang lebih terkontrol untuk terapi jangka panjang. Selain itu, sediaan intraartikular efektif digunakan untuk terapi lokal pada sendi. Dengan demikian, pemilihan eksipien dan sistem penghantaran yang tepat berperan penting dalam meningkatkan stabilitas dan efektivitas terapi dalam berbagai sediaan parenteral natrium diklofenak.
Copyrights © 2026