Artikel ini mengkaji eko-eklesiologi sebagai kritik teologis terhadap paradigma antroposentris dalam kehidupan bergereja. Kajian ini dilatarbelakangi oleh krisis ekologis yang menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan teknis, melainkan juga krisis moral dan spiritual. Dengan menggunakan metode studi pustaka kualitatif dan analisis konseptual-kritis, artikel ini menelaah literatur tentang teologi penciptaan, ekoteologi, eklesiologi, dan etika lingkungan Kristen. Hasil kajian menunjukkan bahwa antroposentrisme cenderung menempatkan manusia sebagai pusat ciptaan dan mendorong gereja mengukur pelayanan melalui indikator internal seperti pertumbuhan jemaat, stabilitas finansial, dan program yang berpusat pada manusia. Eko-eklesiologi menawarkan alternatif dengan memahami gereja sebagai bagian dari oikos Allah dan sebagai komunitas yang dipanggil untuk ikut memulihkan ciptaan. Artikel ini menyimpulkan bahwa kepedulian ekologis perlu diintegrasikan ke dalam liturgi, khotbah, pendidikan iman, pelayanan pastoral, dan aksi sosial sebagai ekspresi iman yang profetik dan kontekstual
Copyrights © 2026