Artikel ini merekonstruksi makna Boru Panggoaran dalam sistem kekerabatan Batak Toba. Konsep ini kerap direduksi sebagai beban domestik dan kewajiban adat anak perempuan pertama, padahal di dalamnya terdapat makna relasional, simbolik, dan kultural yang lebih luas. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan analisis teks budaya, penelitian ini menelaah literatur antropologi, sosiologi, kajian budaya Batak Toba, serta ekspresi budaya seperti ungkapan adat dan teks lagu Batak. Analisis dilakukan dengan teori interpretatif budaya Clifford Geertz dan teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann untuk menunjukkan bahwa makna budaya diwariskan, dinegosiasikan, dan ditafsirkan ulang dalam konteks sosial yang berubah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Boru Panggoaran berfungsi sebagai identitas relasional, figur pengasuhan, simbol harapan keluarga, penghubung relasi kekerabatan, dan pembawa kehormatan dalam sistem Dalihan Na Tolu. Dalam konteks kontemporer, maknanya bergeser dari ekspektasi domestik yang kaku menuju agensi relasional, tanggung jawab budaya, dan martabat perempuan yang lebih setara.
Copyrights © 2026