Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PEMBINAAN ORANG TUA UNTUK PENDIDIKAN KARAKTER ANAK DI ERA DIGITAL: PROGRAM PKM STT HKBP DI HKBP GARU VIII, MEDAN Riris Johanna Siagian
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 12 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i12.2985

Abstract

The role of parents is very important and strategic in shaping children's character, especially in the digital era which is marked by rapid and fundamental changes in various aspects of life. This study aims to explore the understanding and challenges faced by parents in character formation, provide information to help parents comprehend their duties and responsibilities, encourage them to give full attention and affection to their children, and formulate the church’s role in strengthening support for Christian families. The Community Service Program (PkM) of HKBP Theological Seminary was conducted at HKBP Garu VIII, Ress. Sola Gratia, Amplas, Medan, with the topic “The Role of Parents in Shaping Children’s Character in the Digital Era.” The activity was attended by students of the Master of Theology Program at HKBP Theological Seminary and 32 informants consisting of church ministers and congregants. The research employed a qualitative method through Focus Group Discussion (FGD). The discussion revealed several findings: parents have limited understanding of their children’s way of thinking; they spend little time communicating with their children; they acknowledge having limited digital literacy; children are often busy with their own activities and prefer socializing with peers; and there is a general expectation that the church should give greater attention to children’s ministry. This study concludes that the church needs to provide teachings that strengthen the Christian calling and responsibility of parents in educating their children; design programs and spaces conducive to implementing character formation models such as family worship and outdoor children’s services accompanied by parents; and offer continuous mentoring by utilizing digital media.
Pengaruh Musik Kontemporer Terhadap Partisipasi Jemaat dalam Ibadah Gereja di HKBP Sukadame Alfonco Exaudi Purba; Riris Johanna Siagian
Cantata Deo: Jurnal Musik dan Seni Vol. 4 No. 1 (2026): Cantata Deo: Jurnal Musik dan Seni
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAKPN Sentani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69748/jmcd.v4i1.667

Abstract

Penggunaan musik kontemporer dalam ibadah gereja menimbulkan perbedaan respons jemaat yang berdampak pada partisipasi, sementara kajian kontekstual pada gereja lokal masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis partisipasi jemaat dalam ibadah melalui penggunaan musik kontemporer di HKBP Sukadame. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif dalam ibadah, dan dokumentasi terhadap pendeta, sintua, pelayan musik, serta jemaat lintas usia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan musik kontemporer dalam ibadah sore meningkatkan partisipasi jemaat, yang ditandai dengan meningkatnya kehadiran dan keterlibatan aktif dalam bernyanyi serta pelayanan musik, terutama pada remaja dan pemuda. Namun, jemaat dewasa cenderung memilih musik tradisional yang dianggap lebih mendukung kekhusyukan ibadah. Temuan ini menunjukkan perlunya keseimbangan antara relevansi musik dan kedalaman spiritual dalam praktik ibadah.
Gereja dan Generasi Z di Tarutung Dalam Pandangan Teologi Kontekstual Kristin Danayun Lumbantobin; Riris Johanna Siagian
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 11, No 1 (2026): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v11i1.182

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah mengubah cara Generasi Z memahami, mengekspresikan, dan menghidupi imannya. Tulisan ini membahas bagaimana teologi kontekstual dapat menjadi kerangka yang relevan untuk menjawab pergumulan iman Generasi Z di era digital di Tarutung. Digitalisasi menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi gereja, generasi Z cenderung mencari makna iman melalui pengalaman pribadi, keaslian, dan relasi yang nyata, bukan semata melalui ajaran dogmatis yang kaku. Oleh sebab itu, teologi perlu ditafsirkan ulang secara kontekstual agar komunikasi iman dapat menjawab persoalan eksistensial di tengah budaya digital. Teologi kontekstual tidak hanya menjadi jembatan antara tradisi dan teknologi, tetapi juga mengundang pembaruan pendekatan pastoral yang menekankan partisipasi, dialog, dan perwujudan iman di ruang digital..
Bahasa Batak Di Tengah Arus Globalisasi: Eksplorasi Penyebab Hilangnya Kemampuan Berbahasa Batak Pada Kalangan Pemuda Batak Perkotaan: Batak Language in the Midst of Globalization: An Exploration of the Causes of the Loss of Batak Language Skills among Urban Batak Youth Daniel Gian Axel Destrarata Pasaribu; Riris Johanna Siagian
MURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual Vol 7 No 2 (2026): Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI "IZAAK SAMUEL KIJNE" Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58983/jmurai.v7i2.170

Abstract

The Batak language is an essential component of the cultural identity of the Batak people, preserved for generations. However, in the face of increasing globalization, the ability to speak Batak among urban Batak youth has significantly declined. This study aims to explore the causes behind the loss of Batak language proficiency among young Batak people living in urban areas. The primary focus is to identify the factors contributing to the decline in Batak language use, particularly in relation to urbanization, cultural change, and the impact of globalization. Using a qualitative approach, the research investigates the views and experiences of Batak youth in major cities and connects them with ongoing social dynamics. The findings reveal that rapid urbanization and cultural shifts are major factors hindering the younger generation's ability to retain and practice the Batak language. The dominance of the Indonesian language as the national language, along with the widespread use of foreign languages in daily life, further weakens young people's ties to their native language and culture. While there are efforts to preserve the Batak language through cultural and family initiatives, the strong influence of globalization demands adjustments in language practices. Therefore, strategic efforts are needed to address this issue, including more intensive Batak language education and broader cultural preservation initiatives that actively involve the youth.
REKONSTRUKSI MAKNA “BORU PANGGOARAN” DALAM SISTEM  KEKERABATAN  BATAK TOBA Hanna Masta Pasaribu; Riris Johanna Siagian
MARSAHALA : Jurnal Studi Agama dan Budaya Vol 2 No 1 (2026)
Publisher : L-SAPIKA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64099/30qta842

Abstract

Artikel ini merekonstruksi makna Boru Panggoaran dalam sistem kekerabatan Batak Toba. Konsep ini kerap direduksi sebagai beban domestik dan kewajiban adat anak perempuan pertama, padahal di dalamnya terdapat makna relasional, simbolik, dan kultural yang lebih luas. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan analisis teks budaya, penelitian ini menelaah literatur antropologi, sosiologi, kajian budaya Batak Toba, serta ekspresi budaya seperti ungkapan adat dan teks lagu Batak. Analisis dilakukan dengan teori interpretatif budaya Clifford Geertz dan teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann untuk menunjukkan bahwa makna budaya diwariskan, dinegosiasikan, dan ditafsirkan ulang dalam konteks sosial yang berubah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Boru Panggoaran berfungsi sebagai identitas relasional, figur pengasuhan, simbol harapan keluarga, penghubung relasi kekerabatan, dan pembawa kehormatan dalam sistem Dalihan Na Tolu. Dalam konteks kontemporer, maknanya bergeser dari ekspektasi domestik yang kaku menuju agensi relasional, tanggung jawab budaya, dan martabat perempuan yang lebih setara.