Era post-truth telah memicu krisis etika komunikasi siber secara masif, mulai dari penyebaran hoaks, perundungan siber (cyberbullying), hingga manipulasi algoritma yang mengancam ketahanan moral Generasi Digital Native. Pendidikan Agama Islam (PAI) di madrasah sejatinya diproyeksikan sebagai tameng moral utama; namun, fragmentasi struktural keempat rumpun keilmuannya Al-Qur'an Hadis, Fikih, Aqidah Akhlak, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) justru memicu kelumpuhan analitis dan "ego sektoral" pada peserta didik. Merespons anomali tersebut, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan desain epistemologis dan operasionalisasi pedagogis integrasi kontekstual PAI sebagai resolusi degradasi moral di ruang digital. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain library research yang analitis-kritis, penelitian ini menyintesis paradigma integrasi-interkoneksi ilmu, model Contextual Teaching and Learning (CTL), dan teori Konstruktivisme Sosial. Hasil penelitian mengonstruksi sebuah sinergi lintas disiplin yang meleburkan literasi tabayyun dan anti-dusta (Al-Qur'an Hadis), ketegasan kaidah Fikih Informasi (Fikih), internalisasi muraqabatullah sebagai fondasi akhlak digital (Aqidah Akhlak), serta preseden historis resolusi konflik masa lalu (SKI). Secara praksis, transformasi pedagogis ini dioperasionalkan melalui penciptaan Zone of Proximal Development (ZPD) Digital dan dievaluasi secara integratif menggunakan instrumen Project-Based Learning (PBL) lintas disiplin. Kesimpulannya, model integrasi kontekstual ini terbukti secara epistemologis mampu membongkar fragmentasi kognitif dan melahirkan keberanian moral (moral courage) bagi generasi muda untuk menjadi agen literasi aktif. Implikasi temuan ini menawarkan arsitektur resiliensi moral siber yang holistik bagi institusi madrasah melalui transformasi pedagogi lintas disiplin yang sinergis dan adaptif.
Copyrights © 2026