Mengapa kurikulum pembelajaran Bahasa Arab dayah salafi dapat menghasilkan santri (alumni) yang mempunyai kompetensi yang tinggi dalam pemahaman ilmu nahwu, saraf dan ketrampilan al-Qiraah, namun lemah dalam penguasaan kompetensi Bahasa Arab lainnya seperti al-istima’, al-kalam dan al-kitabah ala-arabiyah. Bagaimana materi belajar Bahasa Arab yang terdapat dalam kurikulum dayah salafi, dan bagaimana sistem pembelajaran Bahasa Arab yang diterapkan di dayah salafi ? Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis mengadakan penelitian kualitatif, melalui metode wawancara, pengamatan dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kurikulum Bahasa Arab di dayah salafi, praktek pembelajaran lebih ditekankan pada pembelajaran ilmu al-nahwu, al-sarf dan dengan tujuan untuk mempunyai kompetensi dalam ketrampilan al-qiraah. Sistem pembelajaran yang dipraktekkan adalah dengan menggunakan metode halaqah (melingkar bersama-sama), atau disebut juga dengan istilah bandongan (kolektif). Selain itu juga menggunakan metode beut sidrou-drou (sorogan), yang dilaksanakan di balai-balai (tempat belajar). Kata kunci: kurikulum, pembelajaran Bahasa Arab, dan dayah salafi
Copyrights © 2026