Di tengah arus modernisasi yang ditandai oleh perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi, praktik adat masyarakat Batak Toba menghadapi tantangan berupa pergeseran nilai, termasuk dalam tradisi Martonggo Raja sebagai forum musyawarah adat. Kondisi ini menimbulkan urgensi untuk memahami bagaimana nilai-nilai adat dipertahankan atau ditransformasikan dalam konteks kekinian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi nilai adat Martonggo Raja dalam masyarakat Batak Toba. Martonggo Raja berperan penting dalam menjaga keseimbangan sosial berdasarkan prinsip Dalihan Na Tolu: hormat kepada hula-hula, kasih kepada boru, dan solidaritas dengan dongan sabutuha. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi fokus melalui wawancara, observasi partisipatif, dan analisis dokumen adat di Kota Pematangsiantar. Hasil penelitian menunjukkan transformasi dalam tiga aspek: (1) bentuk, dari musyawarah komunal menjadi lebih adaptif; (2) makna, dari simbol sakral menjadi praktik sosial; dan (3) fungsi, dari kewajiban adat menjadi ekspresi identitas budaya. Meskipun demikian, nilai inti seperti gotong royong, musyawarah, dan penghormatan terhadap leluhur tetap bertahan. Dengan demikian, Martonggo Raja tetap relevan sebagai wadah sosial dan spiritual di tengah modernisasi.
Copyrights © 2026