Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan memilih beberapa episode, mentranskripsikan percakapan, serta menganalisis data menggunakan kerangka pragmatik Yule dan pendekatan analisis percakapan. Analisis ini berfokus pada identifikasi jeda pendek dan panjang, jenis tumpang tindih (overlap), umpan balik verbal dan nonverbal, serta respons yang disukai dan tidak disukai.Hasil penelitian menunjukkan bahwa jeda pendek sering digunakan untuk mengatur pikiran dan menjaga alur percakapan, dengan frekuensi sebanyak 44 kali, sedangkan jeda panjang dapat menandakan keraguan atau refleksi yang lebih mendalam, dengan frekuensi 26 kali. Tumpang tindih umumnya berfungsi sebagai indikator keterlibatan, antusiasme, atau upaya mengambil giliran berbicara, meskipun terkadang dapat menyebabkan interupsi, dengan frekuensi 54 kali. Umpan balik, baik secara verbal (misalnya “ya,” “benar”) yang terjadi sebanyak 26 kali maupun nonverbal (seperti anggukan kepala dan ekspresi wajah) yang terjadi sebanyak 10 kali, berperan penting dalam mendukung pembicara dan menjaga interaksi. Selain itu, preferensi dalam percakapan menunjukkan bahwa respons yang disukai umumnya diwujudkan melalui persetujuan, dukungan, dan keselarasan, sedangkan respons yang tidak disukai sering melibatkan penundaan, mitigasi, atau strategi tidak langsung. Kesimpulannya, penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan strategi dan preferensi percakapan secara signifikan membentuk kualitas interaksi pada kanal YouTube Gita Wirjawan, serta berkontribusi terhadap kelancaran, keterlibatan, dan kedalaman diskusi.
Copyrights © 2026