Kampung Tua Tanjung Uma di Batam merupakan kawasan bersejarah yang mencerminkan kehidupan tradisional masyarakat pesisir yang menjadi representasi arsitektur lokal. Namun, urbanisasi yang pesat telah membawa perubahan signifikan pada visual dan struktur fisik permukiman di kawasan ini. Pergeseran dari rumah panggung tradisional berbahan kayu menuju bangunan permanen dengan material modern seperti beton dan kaca tidak hanya mengubah karakter visual kampung, tetapi juga mengancam identitas arsitektur pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh urbanisasi terhadap visual dan struktur fisik bangunan di Kampung Tua Tanjung Uma serta menilai dampaknya terhadap identitas lokal dan keberlanjutan lingkungan kawasan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara, observasi langsung, dan studi dokumentasi untuk memperoleh pemahaman mengenai perubahan fisik bangunan serta persepsi masyarakat terhadap modernisasi kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tradisional mengalami transformasi visual melalui penggunaan material modern, perubahan bentuk fasad, dan berkurangnya elemen arsitektur lokal seperti kolong rumah, ventilasi alami, dan struktur panggung. Urbanisasi juga menyebabkan terjadinya homogenisasi visual yang mengurangi karakter khas permukiman pesisir. Selain itu, akumulasi sampah domestik dan penurunan vegetasi mangrove memperburuk kondisi lingkungan kawasan. Kesimpulannya, urbanisasi di Kampung Tua Tanjung Uma membawa dampak signifikan terhadap aspek fisik, visual, sosial-budaya, dan keberlanjutan lingkungan kawasan pesisir. Oleh karena itu, diperlukan strategi pelestarian arsitektur lokal, pengelolaan lingkungan yang lebih baik, dan kebijakan pembangunan berkelanjutan agar tercipta keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian identitas budaya pesisir.
Copyrights © 2026