Dismenore primer merupakan nyeri haid yang sering dialami remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas belajar serta kualitas hidup. Di Indonesia, kejadian dismenore mencapai 64,25%, yang terdiri dari dismenore primer 54,89% dan sekunder 9,36%. Dismenore dapat menimbulkan berbagai dampak seperti nyeri perut bagian bawah, mual, pusing, lemas, serta gangguan aktivitas sehari-hari hingga ketidakhadiran di sekolah. Di Desa Dapurkejambon, Dusun Banggle, Kabupaten Jombang, dari 22 remaja putri terdapat 14 remaja yang mengalami dismenore. Metode yang digunakan adalah edukatif partisipatif melalui penyuluhan dan demonstrasi pembuatan sari kedelai. Kegiatan diawali dengan pemberian pretest untuk mengukur pengetahuan awal selanjutnya dilaksanakan penyuluhan tentang penanganan disminore dan demonstrasi pembuatan sari kedelai, di akhir kegiatan dilakukan posttest untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan remaja. Upaya yang dilakukan berupa intervensi edukatif berbasis pangan lokal (sari kedelai) sebagai alternatif penanganan dismenore primer karena kandungan protein dan isoflavon yang bermanfaat bagi kesehatan. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan setelah edukasi, dimana pada posttest diperoleh kategori pengetahuan baik sebesar 86%, cukup 14%, dan kurang 0%. Disimpulkan bahwa intervensi edukatif partisipatif melalui penyuluhan dan demonstrasi pembuatan sari kedelai sebagai alternatif penanganan disminore secara non farmakologi.
Copyrights © 2026