Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi penjual online dalam mempertahankan eksistensi camilan khas Makassar sekaligus membangun kepercayaan konsumen di ruang digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk menggali pengalaman subjektif dari delapan informan penjual camilan online di Kota Makassar. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi media sosial (netnografi), dan dokumentasi. Mengumpulkan bukti berupa tangkapan layar (screenshot) testimoni pelanggan, konten promosi, jangkauan analitik media sosial mereka, serta foto produk camilan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi camilan lokal dipertahankan melalui rekonstruksi visual produk menjadi lebih estetis dan premium. Bahwa eksistensi camilan khas Makassar di era digital tidak lagi bergantung pada pasar tradisional atau ruang sakral adat (seperti upacara pernikahan), melainkan dikonstruksi ulang melalui ruang digital. Untuk membangun kepercayaan konsumen, penjual menerapkan perilaku "transparansi dapur" melalui konten video proses pembuatan yang higienis serta optimalisasi ulasan organik komunitas digital sebagai validasi rasa. Selain itu, penjual memitigasi risiko logistik dengan memberikan garansi produk instan demi menjaga reputasi. Secara kultural, penjual menginternalisasikan nilai kearifan lokal Siri’ na Pacce (harga diri dan empati) sebagai fondasi etika bisnis digital mereka. Kesimpulannya, keberhasilan adaptasi digital kuliner tradisional tidak hanya ditentukan oleh teknologi, melainkan oleh konsistensi perilaku humanis dan kejujuran layanan penjual dalam merawat kepercayaan konsumen.
Copyrights © 2026