Pesantren dituntut membangun kemandirian keuangan tanpa meninggalkan fungsi pendidikan, sosial, dan dakwah. Penelitian ini bertujuan menganalisis model fundraising Pesantren Darunnajah 2 Cipining serta merumuskan strategi inovasi dan digitalisasi yang sesuai dengan karakter organisasi pesantren. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan desain studi kasus tunggal. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pimpinan, pengurus tata usaha, dan pengelola unit usaha; observasi operasional; serta dokumentasi kegiatan dan pencatatan keuangan selama Januari–Maret 2025. Data dianalisis secara tematik melalui reduksi, penyajian, penafsiran, dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fundraising pesantren bertumpu pada tujuh unit usaha produktif, yaitu koperasi/DNC Mart, kantin, percetakan/fotokopi, perkebunan, warung telepon, laundry, dan Darunnajah Fried Chicken. Model tersebut menciptakan sirkulasi ekonomi internal yang relatif berkelanjutan, sedangkan penghimpunan dana eksternal masih terbatas pada santunan sosial dan panggung gembira tahunan. Digitalisasi diperlukan pada dua jalur yang saling melengkapi: penguatan tata kelola usaha melalui sistem kasir, persediaan, pelaporan, dan dashboard keuangan; serta perluasan fundraising melalui QRIS, media sosial, siaran langsung, crowdfunding, dan pengelolaan basis data donatur. Implementasi disarankan dilakukan bertahap dengan memperhatikan akuntabilitas, keamanan data, literasi digital, dan kesesuaian nilai pesantren. Penelitian ini juga menghasilkan roadmap implementasi dan indikator evaluasi yang dapat digunakan oleh pengelola. Temuan ini menegaskan bahwa digitalisasi sebaiknya memperkuat, bukan menggantikan, filosofi kemandirian ekonomi yang telah menjadi fondasi fundraising pesantren.
Copyrights © 2026