Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Inovasi dan Digitalisasi dalam Fundraising Pesantren Nur Fitrah Aniza; Kautsar Alghifari; Kamiliya Jihan; Rizman Reza; Samiyono Samiyono; Ade Sofyan Mulazid
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.9687

Abstract

Pesantren dituntut membangun kemandirian keuangan tanpa meninggalkan fungsi pendidikan, sosial, dan dakwah. Penelitian ini bertujuan menganalisis model fundraising Pesantren Darunnajah 2 Cipining serta merumuskan strategi inovasi dan digitalisasi yang sesuai dengan karakter organisasi pesantren. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan desain studi kasus tunggal. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pimpinan, pengurus tata usaha, dan pengelola unit usaha; observasi operasional; serta dokumentasi kegiatan dan pencatatan keuangan selama Januari–Maret 2025. Data dianalisis secara tematik melalui reduksi, penyajian, penafsiran, dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fundraising pesantren bertumpu pada tujuh unit usaha produktif, yaitu koperasi/DNC Mart, kantin, percetakan/fotokopi, perkebunan, warung telepon, laundry, dan Darunnajah Fried Chicken. Model tersebut menciptakan sirkulasi ekonomi internal yang relatif berkelanjutan, sedangkan penghimpunan dana eksternal masih terbatas pada santunan sosial dan panggung gembira tahunan. Digitalisasi diperlukan pada dua jalur yang saling melengkapi: penguatan tata kelola usaha melalui sistem kasir, persediaan, pelaporan, dan dashboard keuangan; serta perluasan fundraising melalui QRIS, media sosial, siaran langsung, crowdfunding, dan pengelolaan basis data donatur. Implementasi disarankan dilakukan bertahap dengan memperhatikan akuntabilitas, keamanan data, literasi digital, dan kesesuaian nilai pesantren. Penelitian ini juga menghasilkan roadmap implementasi dan indikator evaluasi yang dapat digunakan oleh pengelola. Temuan ini menegaskan bahwa digitalisasi sebaiknya memperkuat, bukan menggantikan, filosofi kemandirian ekonomi yang telah menjadi fondasi fundraising pesantren.
Strategi Fundraising dan Pengembangan Bidang Usaha dalam Mewujudkan Kemandirian Lembaga Pendidikan Islam Revo Fariz Al Kabir; Hani Al Falah; Ahmad Bayhaqi; Amelia Amelia; Ade Sofyan Mulazid
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.11434

Abstract

Keterbatasan pendanaan masih menjadi persoalan utama bagi lembaga pendidikan Islam, khususnya pesantren dan madrasah swasta yang bergantung pada iuran peserta didik serta donasi insidental. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi fundraising, model pengembangan bidang usaha, dan integrasi keduanya dalam mewujudkan kemandirian finansial lembaga pendidikan Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan terhadap artikel ilmiah, buku, dan regulasi yang relevan, terutama terbitan 2020–2025. Data dianalisis melalui reduksi, kategorisasi tema, perbandingan antarsumber, dan penarikan sintesis konseptual. Hasil kajian menunjukkan bahwa fundraising menjadi efektif apabila dilaksanakan secara profesional melalui diversifikasi sumber dana, pemanfaatan zakat, infak, sedekah, wakaf produktif, hibah, kemitraan alumni, tanggung jawab sosial perusahaan, serta kanal digital. Keberlanjutan penghimpunan sangat dipengaruhi oleh transparansi, akuntabilitas, basis data donatur, komunikasi program, dan evaluasi berkala. Pengembangan bidang usaha melalui koperasi pesantren, perdagangan, jasa, agribisnis, dan kewirausahaan santri dapat menghasilkan pendapatan berkelanjutan sekaligus menjadi sarana pembelajaran praktis. Integrasi dana sosial-keagamaan sebagai modal aset produktif dengan surplus usaha untuk membiayai pendidikan membentuk siklus pembiayaan yang lebih mandiri. Model tersebut memerlukan pemisahan pengelolaan keuangan, kepemimpinan visioner, sumber daya manusia kompeten, pengendalian risiko, dan tata kelola yang baik. Penelitian merekomendasikan pembentukan unit fundraising profesional dan badan usaha milik pesantren yang terkoordinasi dalam peta jalan kemandirian lembaga secara berkelanjutan.