Efektivitas pengawasan lalu lintas barang, pencegahan pelanggaran, dan pemenuhan ketentuan kepabeanan serta cukai sangat dipengaruhi oleh kinerja petugas penindakan. Variasi dan kerumitan pola pelanggaran mengharuskan petugas menguasai kompetensi yang sesuai serta mengikuti pelatihan yang berorientasi pada kebutuhan operasional. Studi ini menguji keterkaitan kompetensi dan pelatihan dengan kinerja petugas, baik secara individual maupun secara bersama-sama. Penelitian menerapkan desain kuantitatif eksplanatori dengan total sampling terhadap 35 responden. Data diperoleh melalui kuesioner berskala Likert 1–5, kemudian diolah menggunakan regresi linear berganda. Prosedur analisis mencakup statistik deskriptif, pengujian validitas dan reliabilitas, pemeriksaan asumsi klasik, uji t, uji F, serta koefisien determinasi. Nilai corrected item-total correlation seluruh indikator berada pada kisaran 0,610–0,858, sedangkan Cronbach’s alpha berkisar antara 0,883 dan 0,921. Hasil estimasi memperlihatkan bahwa kompetensi berkorelasi positif dan signifikan dengan kinerja (B=0,447; t=4,433; p<0,001). Pelatihan juga menunjukkan hubungan positif dan signifikan (B=0,642; t=4,863; p<0,001). Secara simultan, kedua prediktor tersebut signifikan dalam menjelaskan kinerja (F=30,720; p<0,001), dengan R² sebesar 0,658. Secara relatif, kontribusi pelatihan sedikit lebih besar, meskipun dampaknya tetap ditentukan oleh relevansi materi, pendekatan pembelajaran yang aplikatif, kesetaraan akses, kecukupan fasilitas, dan keberhasilan penerapan hasil pelatihan di tempat kerja. Atas dasar temuan tersebut, penelitian mengusulkan pemetaan kompetensi berdasarkan jabatan, pelatihan berbasis skenario, evaluasi setelah pelatihan, serta integrasi pengembangan sumber daya manusia dengan indikator kinerja operasional.
Copyrights © 2026