Edible film berbasis pati menawarkan alternatif kemasan biodegradable, tetapi masih memiliki keterbatasan pada kekuatan mekanik dan sensitivitas terhadap air. Penelitian ini bertujuan menyintesis dan mengevaluasi edible film biokomposit dari pati jagung, gliserol, dan serbuk limbah kulit salak sebagai penguat lignoselulosik melalui metode solvent casting. Formulasi menggunakan 6 g pati jagung, 4 mL gliserol, serta variasi serbuk kulit salak 0,5 g (A), 0,7 g (B), dan 0,9 g (C). Karakterisasi mencakup kuat tarik, elongasi, modulus elastisitas, penyerapan air, biodegradasi, dan spektroskopi FTIR. Kuat tarik meningkat dari 0,271 MPa pada A menjadi 0,752 MPa pada B dan 1,008 MPa pada C. Modulus elastisitas juga meningkat dari 4,46 menjadi 7,10 MPa. Elongasi tertinggi diperoleh pada B sebesar 15,27%, sedangkan C menurun menjadi 14,21%, yang menunjukkan bahwa penambahan penguat pada konsentrasi lebih tinggi meningkatkan kekakuan film. Penyerapan air terendah diperoleh pada A sebesar 4,65%, sedangkan B dan C masing-masing sebesar 27,56% dan 23,43%. Pada hari ke-5, biodegradasi mencapai 28,05% (A), 35,66% (B), dan 100% (C); seluruh formulasi terdegradasi 100% pada hari ke-7. Spektrum FTIR menunjukkan pita O–H, C–H, C=C/H–O–H, C–O, dan daerah sidik jari polisakarida yang mengonfirmasi interaksi fisik antarkomponen. Formulasi B memberikan keseimbangan mekanik terbaik, sedangkan A unggul dalam ketahanan air dan C dalam kekuatan serta laju biodegradasi. Hasil ini menunjukkan adanya trade-off kuantitatif antar sifat dan memperkuat potensi serbuk limbah kulit salak sebagai penguat edible film berbasis pati jagung.
Copyrights © 2026