Artikel ini menelaah dinamika akses dan adopsi teknologi digital di 24 kabupaten/kota Provinsi Sulawesi Selatan selama tiga tahun (2023–2025) berdasarkan Subpilar Akses dan Adopsi Teknologi Digital dalam Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI). Dengan pendekatan sosiologi pembangunan dan kerangka teori kesenjangan digital (digital divide), analisis menemukan pola dua fase yang kontras. Fase pertama (2023–2024) memperlihatkan modernisasi konvergen: skor rata-rata provinsi naik dari 57,82 menjadi 63,55 dan kesenjangan antarwilayah justru menyempit. Fase kedua (2024–2025) memperlihatkan polarisasi divergen: rata-rata anjlok kembali ke 58,28 sementara kesenjangan antarwilayah meledak (koefisien variasi melonjak dari 3,64% menjadi 15,66%). Yang menarik secara sosiologis, terjadi inversi pusat–pinggiran: Kota Makassar yang semula memimpin (2023) tergeser oleh kabupaten kepulauan dan pedalaman seperti Kepulauan Selayar, Sinjai, Jeneponto, dan Tana Toraja. Artikel berargumen bahwa volatilitas ini menyingkap rapuhnya kapasitas kelembagaan lokal dalam mengelola transformasi digital, sekaligus mengingatkan perlunya kehati-hatian metodologis dalam membaca lonjakan satu tahun.
Copyrights © 2026