Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di tingkat sekolah dasar acap kali terpusat pada buku teks, menjadikan pemahaman sejarah terasa abstrak bagi kognisi anak. Fenomena ini tercermin pada siswa kelas VI di SDN Jarangan II, yang mayoritas belum mampu mengidentifikasi dan merefleksikan peristiwa sejarah lokal secara akurat. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi implementasi Tugu Pancakara Ngesthi Aruming Bawana sebagai sumber belajar kontekstual, serta mengevaluasi dampaknya terhadap pemahaman siswa. Penelitian ini mengaplikasikan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi langsung dengan situs sejarah lokal mampu mentransformasi materi hafalan menjadi pengalaman visual dan emosional yang otentik. Pemanfaatan monumen ini terbukti secara signifikan mendongkrak antusiasme, keaktifan, dan pemahaman kognitif siswa mengenai rentetan sejarah lokal. Kesimpulannya, pengintegrasian lingkungan sekitar sebagai sumber belajar merupakan strategi pedagogis yang amat efektif untuk menjembatani teori dan realitas, sekaligus merawat memori kolektif dan nasionalisme pada peserta didik.
Copyrights © 2026