Epistemologi Islam berperan sebagai landasan fundamental dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang memadukan wahyu, akal, dan intuisi spiritual. Dalam khazanah pemikiran Islam, struktur ini diklasifikasikan ke dalam tiga pendekatan utama, yakni bayani, burhani, dan ‘irfani menurut Muhammad Abid al-Jabiri. Akan tetapi, dalam praktik pendidikan Islam saat ini, ketiga pendekatan tersebut sering berkembang secara terpisah dan tidak proporsional, sehingga menimbulkan fragmentasi epistemologis serta memperkuat dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengaktualisasikan kembali peran epistemologi bayani, burhani, dan ‘irfani dalam kerangka integrasi pendidikan Islam melalui kajian kritis terhadap praktik keilmuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan filosofis dan analitis. Hasil penelitian menunjukkan kecenderungan dominasi bayani yang mengabaikan burhani, serta penggunaan burhani yang tidak selalu berlandaskan bayani. Di sisi lain, dimensi ‘irfani relatif terabaikan. Hal ini menyebabkan kurang optimalnya integrasi antara aspek normatif, rasional, dan spiritual dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, diperlukan pendekatan integratif-dialektis yang menempatkan bayani sebagai fondasi normatif, burhani sebagai perangkat rasional-empiris, dan ‘irfani sebagai dimensi etis-spiritual agar tercipta sistem keilmuan yang utuh, kontekstual, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Copyrights © 2026