Penelitian ini mengeksplorasi dekonstruksi sosiologis terhadap dikotomi keilmuan dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) yang berakar pada hegemoni kolonial dan kekerasan simbolik. Dikotomi ini memisahkan nalar wahyu dari nalar sains, sehingga memicu fragmentasi identitas dan dualisme kognitif pada peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan akar sosiologis pemisahan tersebut dan menawarkan paradigma integratif-interkonektif sebagai solusi. Menggunakan metode kualitatif melalui studi kepustakaan dengan analisis wacana kritis, penelitian ini mengkaji pemikiran Ian G. Barbour, Amin Abdullah, dan Kuntowijoyo. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pemisahan ilmu "sakral" dan "profan" merupakan konstruksi kolonial untuk memarginalkan peran agama. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa integrasi agama dan sains melalui proses pengilmuan Islam adalah kebutuhan mendesak guna menjaga relevansi PAI di era disrupsi digital. Implikasinya menuntut rekonstruksi kurikulum secara radikal dan transformasi guru PAI menjadi mujtahid pendidikan yang mampu menjembatani teks suci dengan realitas empiris. Integrasi ini memastikan generasi mendatang memiliki kompetensi intelektual sekaligus kedalaman spiritual dalam menjawab tantangan etika kontemporer seperti perubahan iklim dan kecerdasan buatan
Copyrights © 2026