Liana Novita
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Aliran Progresivisme dan Essensialisme Dalam Filsafat Pendidikan Islam Muhammad Habby Bullah; Mutiara Selviana; Siti Nurhasanah; Amril M; Liana Novita
Jurnal Inovasi Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia Vol. 2 No. 6 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/acj5fs44

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji dan membandingkan dua aliran berpengaruh dalam filsafat pendidikan, yaitu progresivisme dan esensialisme, khususnya terkait penerapan serta signifikansinya dalam pendidikan modern. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan menganalisis berbagai sumber ilmiah yang membahas karakteristik utama, tujuan, dan prinsip-prinsip dasar dari kedua perspektif filsafat tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa progresivisme menekankan pembelajaran berbasis pengalaman, fleksibilitas dalam proses belajar, serta pengembangan potensi individu peserta didik melalui pendekatan yang berorientasi pada siswa. Sebaliknya, esensialisme lebih menitikberatkan pada penguasaan pengetahuan dasar, kedisiplinan, dan pembentukan karakter melalui kurikulum yang tersusun secara sistematis. Kedua pendekatan ini memiliki peran penting dalam membentuk sistem pendidikan; progresivisme selaras dengan tuntutan pendidikan masa kini yang mengutamakan kreativitas dan kemampuan beradaptasi, sementara esensialisme tetap krusial dalam menjaga pengetahuan fundamental dan nilai-nilai moral. Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan bahwa penggabungan prinsip-prinsip progresivisme dan esensialisme dapat menghasilkan sistem pendidikan yang seimbang antara kebebasan belajar dan pengembangan karakter
LANDASAN FILOSOFIS INTEGRASI ILMU ISLAM DAN SAINS: TELAAH ATAS KRISIS PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER Johanna Nuryanto Putra; Dimas Halvin; Anharudin; Amril M; Liana Novita
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Release
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.14485

Abstract

This study examines the philosophical crisis in contemporary Islamic education, which encompasses ontological, epistemological, and axiological dimensions. This crisis is characterized by a shift in the orientation of Islamic education from the formation of the “insan kamil” (the perfect human being) toward a pragmatic and formalistic approach, a dichotomy between religious and general knowledge, and a weakening of the integration between revelation and reason within the educational system. This situation has caused Islamic education to lose its spiritual, moral, and humanistic orientation amidst the tide of modernity and the advancement of science. This study aims to analyze the ontological, epistemological, and axiological problems in Islamic education and to formulate a paradigm for the integration of Islamic knowledge and science as a conceptual solution. The study employs a qualitative approach using library research (literature review). Data were collected from various sources, including books, scientific journal articles, and relevant prior research, and analyzed using descriptive-analytical and philosophical-critical approaches. The results of the study indicate that the reconstruction of Islamic education requires an integrative paradigm that combines revelation and reason, eliminates the dichotomy of knowledge, and restores the orientation of education toward the values of tawhid, ethics, humanity, and the public good. The integration of Islamic knowledge and science is a strategic step toward building a holistic, dialogical, humanistic, and relevant Islamic education capable of addressing contemporary challenges
INTEGRASI NILAI-NILAI ISLAM DAN SAINS DALAM PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEPTUAL SISWA Ahmad Rifki Pratama Rifki; Vijra Islamul Hafiz; Rizki Syafriwal; Liana Novita; Amril M
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 2 (2026): Vol. 2 No. 2 Edisi Juli 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i2.2654

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi nilai-nilai Islam dan sains dalam pembelajaran guna meningkatkan pemahaman konseptual siswa. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada masih rendahnya kemampuan siswa dalam memahami konsep secara mendalam serta adanya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu sains dalam proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen semu (quasi experiment) yang melibatkan kelas kontrol dan kelas eksperimen. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes pemahaman konseptual, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dan sains memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan pemahaman konseptual siswa. Hal ini dibuktikan dengan adanya perbedaan signifikan antara hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol. Integrasi ini juga mampu meningkatkan motivasi belajar, sikap religius, serta kemampuan berpikir kritis siswa. Selain itu, pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna karena siswa dapat mengaitkan konsep sains dengan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan integratif dapat menjadi alternatif solusi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan demikian, guru diharapkan mampu merancang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter dan nilai spiritual siswa. Implikasi penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan model pembelajaran yang holistik dan integratif di lingkungan pendidikan.
LATAR BELAKANG SOSIOLOGIS INTEGRASI AGAMA DAN SAINS DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) Robiatun Adawiyah; Amril M Amril M; Liana Novita
CENDEKIA PENDIDIKAN Vol 5 No 3 (2026): Edisi Agustus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Abdurachman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/cendekiapendidikan.v5i3.9006

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi dekonstruksi sosiologis terhadap dikotomi keilmuan dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) yang berakar pada hegemoni kolonial dan kekerasan simbolik. Dikotomi ini memisahkan nalar wahyu dari nalar sains, sehingga memicu fragmentasi identitas dan dualisme kognitif pada peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan akar sosiologis pemisahan tersebut dan menawarkan paradigma integratif-interkonektif sebagai solusi. Menggunakan metode kualitatif melalui studi kepustakaan dengan analisis wacana kritis, penelitian ini mengkaji pemikiran Ian G. Barbour, Amin Abdullah, dan Kuntowijoyo. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pemisahan ilmu "sakral" dan "profan" merupakan konstruksi kolonial untuk memarginalkan peran agama. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa integrasi agama dan sains melalui proses pengilmuan Islam adalah kebutuhan mendesak guna menjaga relevansi PAI di era disrupsi digital. Implikasinya menuntut rekonstruksi kurikulum secara radikal dan transformasi guru PAI menjadi mujtahid pendidikan yang mampu menjembatani teks suci dengan realitas empiris. Integrasi ini memastikan generasi mendatang memiliki kompetensi intelektual sekaligus kedalaman spiritual dalam menjawab tantangan etika kontemporer seperti perubahan iklim dan kecerdasan buatan
INTEGRASI AGAMA DAN SAINS PERSPEKTIF M. AMIN ABDULLAH: ANALISIS EPISTEMOLOGIS DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA Rizal Faqihupiddin NST; Nazwa Assyifa; Amril M; Liana Novita
CENDEKIA PENDIDIKAN Vol 5 No 3 (2026): Edisi Agustus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Abdurachman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/cendekiapendidikan.v5i3.9125

Abstract

Integrasi antara agama dan sains menjadi isu krusial dalam pengembangan keilmuan modern, khususnya dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia yang masih menghadapi problem dikotomi ilmu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep integrasi agama dan sains dalam perspektif M. Amin Abdullah melalui pendekatan epistemologis, serta mengkaji implikasinya terhadap pengembangan kurikulum pendidikan Islam. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan jenis library research, melalui analisis terhadap karya-karya utama dan literatur relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paradigma integrasi-interkoneksi yang dikembangkan oleh M. Amin Abdullah menawarkan pendekatan transdisipliner yang menghubungkan ilmu agama, ilmu sosial, dan ilmu alam secara dialogis. Paradigma ini berimplikasi pada perlunya rekonstruksi kurikulum pendidikan Islam yang tidak lagi memisahkan ilmu secara dikotomis, melainkan mengintegrasikannya dalam struktur dan proses pembelajaran. Dengan demikian, integrasi agama dan sains dapat menjadi solusi strategis dalam membangun sistem pendidikan Islam yang holistik, kontekstual, dan relevan dengan perkembangan zaman. Kata Kunci: Integrasi Ilmu, Epistemologi, Kurikulum, Pendidikan Islam
RASIONALISME KRITIS KARL POPPER: TRANSFORMASI METODOLOGI FALSIFIKASI DALAM MENGHADAPI KRISIS EPISTEMOLOGIS SAINS MODERN Fitriyani Fitriyani; Siti Roihan; Amril M; Liana Novita
CENDEKIA PENDIDIKAN Vol 5 No 3 (2026): Edisi Agustus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Abdurachman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/cendekiapendidikan.v5i3.9136

Abstract

Studi ini dimotivasi oleh masalah epistemologis induktivisme dalam perkembangan ilmiah kontemporer dan kecenderungan yang meningkat untuk menggunakan "kesesuaian logis" atau penalaran justifikasi dalam menghubungkan sains dengan Islam. Pendekatan seperti itu seringkali mengarah pada penyederhanaan yang berlebihan, di mana teori-teori ilmiah yang pada dasarnya bersifat sementara diperlakukan sebagai kebenaran absolut hanya untuk menyelaraskannya dengan teks-teks suci. Akibatnya, objektivitas ilmiah dan otoritas agama berisiko terkikis. Sebagai tanggapan terhadap masalah ini, penelitian ini berupaya untuk mengeksplorasi konsep rasionalisme kritis Karl Popper, khususnya prinsip falsifikasi, sebagai kerangka metodologis alternatif untuk mengatasi tantangan epistemologis ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian pustaka kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Analisis didasarkan pada karya-karya utama Popper bersama dengan literatur ilmiah interdisipliner yang relevan mengenai sains, filsafat, dan agama. Temuan menunjukkan bahwa prinsip falsifikasi menetapkan perbedaan yang tegas antara teori-teori ilmiah, yang tetap tentatif dan terbuka untuk revisi, dan doktrin-doktrin agama, yang termasuk dalam ranah absolut metafisika. Dengan menerapkan logika coba-coba, hubungan antara sains dan agama dapat berkembang secara lebih kritis, terbuka, dan objektif tanpa mengurangi kesakralan wahyu. Lebih lanjut, studi ini menyoroti pentingnya merekonstruksi integrasi pengetahuan melalui keterbukaan intelektual, refleksi kritis, dan evaluasi berkelanjutan. Pendekatan seperti itu dianggap penting untuk mendorong budaya akademik yang inovatif dengan fondasi epistemologis yang kuat, khususnya di Lembaga Pendidikan Tinggi Agama Islam (PTKI). Kata Kunci: Falsifikasi, Integrasi Ilmu, Karl Popper, Rasionalisme Kritis, Penalaran Justifikasi.