Meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan remaja turut memunculkan berbagai persoalan sosial digital, salah satunya cyberbullying. Rendahnya kesadaran etika digital menyebabkan perilaku seperti ejekan, komentar negatif, dan penyebaran konten tanpa izin sering dianggap sebagai candaan biasa oleh siswa. Sebagian besar program pencegahan cyberbullying masih berfokus pada penyuluhan satu arah sehingga siswa belum dilibatkan secara aktif dalam proses edukasi digital. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi Service Learning berbasis kampanye digital partisipatif sebagai strategi pencegahan cyberbullying di sekolah menengah.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui kegiatan pengabdian masyarakat di SMA Negeri 4 Siak Hulu dengan melibatkan 71 siswa. Kegiatan dilaksanakan melalui tahapan edukasi literasi digital, diskusi reflektif, serta produksi kampanye digital anti-cyberbullying berupa poster, slogan, dan video edukatif. Data diperoleh melalui observasi, dokumentasi, Focus Group Discussion (FGD), dan refleksi siswa, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan Service Learning berbasis kampanye digital efektif meningkatkan kesadaran siswa terhadap bahaya cyberbullying serta memperkuat etika dan empati digital. Keterlibatan siswa sebagai kreator kampanye digital membuat pesan anti-cyberbullying lebih mudah dipahami dibanding pendekatan penyuluhan konvensional. Temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa pencegahan cyberbullying tidak cukup hanya melalui literasi digital teknis, tetapi memerlukan refleksi sosial, empati, dan keterlibatan aktif siswa dalam ruang digital. Novelty penelitian terletak pada transformasi peran siswa dari objek edukasi menjadi digital change agents dalam membangun budaya digital sekolah yang lebih sehat dan anti-cyberbullying.
Copyrights © 2026