Retak beton masih menjadi persoalan berulang pada proyek konstruksi lokal karena dapat mempercepat masuknya udara, klorida, dan karbon dioksida yang memicu penurunan durabilitas serta peningkatan biaya pemeliharaan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan literasi, kesadaran teknis, dan kesiapan awal pelaku konstruksi terhadap teknologi beton self-healing berbasis bakteri. Kebaruan kegiatan terletak pada model difusi ipteks yang menghubungkan penelitian pertukaran beton bio-self-healing dengan kebutuhan lapangan mitra, disertai evaluasi kuantitatif dan kualitatif. Kegiatan dilaksanakan bersama CV. Mustikasari di Tulungagung melalui penyuluhan, pemaparan sederhana, diskusi terarah, pre-test, post-test, kuesioner kepuasan, serta wawancara. Evaluasi data dianalisis secara deskriptif menggunakan persentase capaian dan N-Gain. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata pemahaman meningkat dari 40,75% menjadi 80,17%, dengan rata-rata N-Gain 0,668 atau kategori sedang menuju tinggi. Indikator relevansi teknologi terhadap masalah konstruksi lokal mencapai skor post-test tertinggi sebesar 88,00%. Kepuasan peserta juga sangat tinggi dengan rata-rata 90,44%, sedangkan 93,33% responden menyatakan berminat atau mungkin mengikuti pelatihan lanjutan. Temuan FGD menunjukkan bahwa saluran udara, talud, drainase, dan elemen beton lembap menjadi kandidat uji coba awal. Kegiatan ini penting sebagai tahap penerjemahan materi teknologi yang cerdas menuju proyek percontohan lokal yang lebih tahan lama, efisien, dan berkelanjutan
Copyrights © 2026