Industri perbankan saat ini memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung stabilitas ekonomi nasional, namun ketatnya persaingan menuntut pengelolaan sumber daya secara efektif dan efisien demi mempertahankan daya saing. Di sisi lain, meskipun literatur manajemen keuangan menempatkan Cost-to-Income Ratio (CIR) sebagai indikator vital untuk menilai tingkat efisiensi operasional, sebagian besar penelitian terdahulu lebih berfokus pada pengaruh CIR terhadap profitabilitas, sehingga analisis komparatif tingkat efisiensi bank-bank BUMN pada periode pasca pemulihan ekonomi tahun 2023–2025 masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan tingkat efisiensi operasional Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Syariah Indonesia (BSI), dan Bank Tabungan Negara (BTN) selama periode 2023–2025 dengan menggunakan indikator CIR. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif komparatif dengan memanfaatkan data sekunder laporan keuangan publikasi masing-masing bank, yang kemudian diuji melalui analisis deskriptif, uji normalitas Shapiro-Wilk, uji homogenitas Levene, uji inferensial One-Way ANOVA, serta uji lanjut Games-Howell. Temuan terpenting dari analisis deskriptif dan inferensial menunjukkan adanya perbedaan rata-rata nilai CIR yang signifikan secara statistik di antara kelompok bank yang diteliti, di mana BNI berhasil mencatat tingkat efisiensi operasional terbaik dengan tren nilai CIR yang relatif paling rendah dan stabil dibandingkan BSI dan BTN. Sebagai kesimpulan, kemampuan pengendalian biaya operasional dan optimalisasi pendapatan pada BNI terbukti berjalan lebih efektif daripada dua bank lainnya. Oleh karena itu, direkomendasikan bagi BNI untuk mempertahankan konsistensinya, sedangkan BSI disarankan fokus pada penguatan integrasi operasional, dan BTN perlu mengevaluasi struktur biaya serta memperbaiki stabilitas efisiensinya agar lebih adaptif terhadap perubahan kondisi ekonomi.
Copyrights © 2026