Inflasi pangan yang melanda Indonesia, khususnya periode 2022–2024, menekan daya beli rumah tangga berpenghasilan rendah. Penelitian ini mengkaji strategi coping mechanism yang diterapkan oleh rumah tangga Muslim di Desa Mayang, Kabupaten Jember, dalam merespons tekanan inflasi pangan, serta menganalisisnya melalui perspektif ekonomi mikro Islam. Dengan pendekatan kualitatif desain studi kasus tunggal, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap sepuluh informan yang dipilih secara purposive. Temuan menunjukkan tiga klaster strategi utama: (1) adaptasi konsumsi berbasis hierarki kebutuhan dharuriyyat berupa substitusi protein hewani ke nabati dan pergeseran ke bahan pangan berbiaya rendah; (2) pemanfaatan kredit informal berbasis kepercayaan yang bersesuaian dengan prinsip Qard al-Hasan, di mana pemilik toko kelontong menyediakan utang tanpa bunga dengan mekanisme cicilan fleksibel; dan (3) aktivasi modal sosial Islam melalui praktik takaful ijtima'i dan ta'awun berupa berbagi pangan, arisan sembako, dan bantuan sosial komunitas. Nilai-nilai Islam termasuk konsep qana'ah, tawakkal, dan ukhuwwah terbukti membentuk preferensi strategi yang dipilih, menjadikan religiusitas bukan sekadar dimensi kultural melainkan mekanisme resiliensi fungsional. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis terhadap literatur coping mechanism dengan mengintegrasikan dimensi keislaman yang selama ini absen dalam kajian konvensional.
Copyrights © 2026