Penelitian fenomenologi ini mengeksplorasi profil kompetensi literasi digital 13 mahasiswa PIAUD dari IAI Persis Bandung dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung melalui wawancara mendalam. Menggunakan kerangka DigComp 3.0 (mengakses, menseleksi, memproduksi, mendistribusikan), temuan mengungkapkan kompetensi level fungsional berkembang dengan distribusi asimetris: kuat dalam mengakses dan memproduksi (literasi alat), sedang dalam menseleksi-mengevaluasi, dan lemah dalam jejaring profesional dan praktik level sistem (literasi sistem). Nilai-nilai Islam—tabayyun (verifikasi), amanah (tanggung jawab), mas'uliyyah (akuntabilitas), 'adl (keadilan), syura (musyawarah), dan qudwah hasanah (keteladanan)—berfungsi sebagai mediator etis yang khas di semua dimensi, mengubah literasi digital dari instrumental menjadi praktik etis-bermakna. Prinsip Developmentally Appropriate Practice (DAP) terintegrasi secara intuitif. Kesenjangan utama adalah antara literasi alat dan literasi sistem, dengan implikasi pengembangan kurikulum yang menekankan sistem-level thinking, formalisasi pemahaman DAP, dan dukungan institusional. Praktik lapangan (PPL) menjadi momen transformatif. Konvergensi kerangka nilai Islam di kedua institusi menunjukkan literasi digital dalam pendidikan tinggi Islam secara fundamental dimediasi oleh nilai-nilai etis dan keagamaan.
Copyrights © 2026