Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di kawasan perdesaan sering kali dihadapkan pada tantangan kerentanan ekonomi agraris dan keterbatasan kapasitas sumber daya manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis partisipasi masyarakat lokal, proses pengembangan kapasitas dan kesadaran kritis warga, serta tingkat kemandirian komunitas dalam mengelola keberlanjutan ekowisata alam Niagara Jonggol ("Bhutan van Java") di Kabupaten Bogor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Community Based Research (CBR). Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, studi dokumentasi, dan wawancara mendalam bersama pengelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pemandu keselamatan (river rescue), pelaku usaha kuliner perempuan, serta tokoh masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Partisipasi masyarakat terbentuk secara organik (bottom-up) dan inklusif, dengan pembagian peran yang fungsional pada tahap operasional dan pemanfaatan hasil ekonomi secara berkeadilan, meskipun pada tahap perencanaan makro masih didominasi pengurus inti; (2) Aktivitas ekowisata berfungsi sebagai media experiential learning yang berhasil meningkatkan keterampilan hospitality, komunikasi publik, dan mitigasi bencana air, sekaligus menumbuhkan kesadaran kritis (critical consciousness) warga dalam merawat ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Cipamingkis; (3) Komunitas lokal memiliki tingkat kemandirian (community resilience) yang tinggi dalam membiayai operasional harian secara swadaya dan menyelesaikan konflik internal melalui musyawarah adat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan modal sosial dan kepemilikan penuh masyarakat menjadi fondasi utama keberlanjutan ekowisata perdesaan.
Copyrights © 2026