Wilayah perbatasan memiliki kompleksitas sosial-budaya yang tinggi sehingga menuntut implementasi pendidikan multikultural yang adaptif dan inklusif. Namun, keterbatasan pemahaman dan kesiapan guru masih menjadi kendala dalam mengelola pembelajaran pada konteks sekolah multietnis. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman dan kesiapan guru dalam mengimplementasikan pendidikan multikultural melalui pelatihan berbasis konteks lokal di Entikong, Kabupaten Sanggau. Mitra kegiatan adalah 30 guru dari SMK Negeri 1 Entikong. Metode yang digunakan berupa pendekatan partisipatif melalui seminar interaktif yang mencakup penyampaian materi, diskusi reflektif, dan berbagi pengalaman dalam mengelola keberagaman di kelas. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner berbasis skala Likert serta refleksi peserta untuk mengidentifikasi persepsi terhadap manfaat dan relevansi kegiatan. Hasil menunjukkan bahwa 90% peserta menilai kegiatan sangat bermanfaat, lebih dari 85% menyatakan materi relevan dengan kebutuhan pembelajaran, dan sekitar 80% memiliki motivasi untuk mengimplementasikan nilai-nilai multikultural dalam praktik pembelajaran. Temuan ini mengindikasikan bahwa kegiatan mampu meningkatkan pemahaman konseptual dan mendorong kesiapan awal guru dalam mengembangkan pembelajaran yang inklusif. Namun demikian, keterbatasan struktural seperti kurikulum dan fasilitas masih menjadi tantangan dalam implementasi berkelanjutan. Oleh karena itu, kegiatan ini berperan sebagai langkah awal dalam penguatan kapasitas guru serta menegaskan pentingnya program lanjutan yang lebih aplikatif dan sistemik untuk mendukung transformasi pedagogis di wilayah perbatasan.
Copyrights © 2026