This study aims to examine the deconstruction of the green economy concept in the documentary film Pulau Plastik using Fairclough’s Critical Discourse Analysis. The research employs a qualitative approach. Data are collected through documentation techniques by observing and identifying relevant scenes, dialogues, narration, and visual elements in the film. The data are analyzed using Fairclough’s three-dimensional framework, including textual analysis, discursive practice, and socio-cultural practice. The findings reveal that the film constructs the green economy as a contested concept, highlighting discrepancies between ideal environmental narratives and practical realities shaped by power relations and institutional interests. The textual dimension shows that language and visual elements emphasize environmental crises while subtly questioning mainstream solutions. The discursive practice dimension indicates that the film functions as a medium to influence public discourse and awareness. Meanwhile, the socio-cultural dimension demonstrates the role of government, industry, and society in shaping and contesting the green economy narrative. Overall, the study shows that the film critically challenges dominant environmental discourses and contributes to shaping public understanding of environmental issues.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji dekonstruksi konsep green economy dalam film dokumenter Pulau Plastik menggunakan analisis wacana kritis model Fairclough. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dengan cara mengamati dan mengidentifikasi adegan, dialog, narasi, serta unsur visual yang relevan dalam film. Teknik analisis data menggunakan tiga dimensi Fairclough, yaitu analisis tekstual, praktik diskursif, dan praktik sosial budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini mengonstruksi konsep green economy sebagai konsep yang problematis dengan menampilkan ketidaksesuaian antara narasi ideal lingkungan dan realitas praktik yang dipengaruhi oleh relasi kekuasaan dan kepentingan institusi. Pada dimensi tekstual, bahasa dan visual menonjolkan krisis lingkungan sekaligus mengkritisi solusi yang bersifat normatif. Pada dimensi praktik diskursif, film berperan dalam membentuk dan memengaruhi kesadaran serta wacana publik. Sementara itu, pada dimensi sosial budaya, terlihat adanya peran pemerintah, industri, dan masyarakat dalam membentuk serta mempertentangkan narasi green economy. Secara keseluruhan, film ini menghadirkan kritik terhadap wacana dominan lingkungan sekaligus membentuk pemahaman publik terhadap isu-isu lingkungan.
Copyrights © 2026