Matematika kerap diajarkan terpisah dari kehidupan sosial siswa, padahal keduanya sebenarnya saling memperkuat. Penelitian ini bertolak dari asumsi tersebut dan menguji apakah pendekatan STEM-Sosial yang mengintegrasikan prinsip rekayasa, teknologi sederhana, dan masalah sosial nyata sebagai konteks belajar matematika mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis sekaligus kesadaran sosial siswa kelas IV SD secara bersamaan. Rancangan yang digunakan adalah kuasi-eksperimen dengan desain nonequivalent control group pretest-posttest, melibatkan dua kelas paralel di SDN Taman 02 Madiun: kelas eksperimen (n = 27) yang menerima pembelajaran STEM-Sosial selama delapan pertemuan, dan kelas kontrol (n = 26) yang belajar dengan pendekatan konvensional. Instrumen terdiri dari tes kemampuan pemecahan masalah matematis (TKPMM) berbentuk soal uraian empat butir dan Skala Kepedulian Sosial Berbasis Situasi (SKSBS) 28 butir. Uji beda dengan independent samples t-test menunjukkan perbedaan gain score yang signifikan pada kedua variabel: untuk kemampuan pemecahan masalah matematis (t = 4,82; p = 0,000) dan untuk kesadaran sosial (t = 3,67; p = 0,001). Lebih menarik, analisis korelasi Pearson mengungkapkan hubungan positif yang cukup kuat antara peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis dan peningkatan kesadaran sosial (r = 0,61; p < 0,05), mengisyaratkan bahwa dua kompetensi ini tidak berjalan di jalur yang berseberangan melainkan saling memperkuat ketika berangkat dari konteks masalah yang sama.
Copyrights © 2026