Penyelenggaraan pendidikan di sekolah kepulauan terpencil menghadapi persoalan serius yang bersumber dari tiga arah sekaligus, yaitu guru, siswa, dan orang tua. Keterlambatan kehadiran guru akibat jarak tempuh laut dari kota ke pulau menyebabkan pembelajaran baru dimulai sekitar pukul sembilan pagi, jauh dari jadwal yang seharusnya. Rendahnya kedisiplinan siswa, minimnya kepedulian orang tua, serta keterbatasan sarana prasarana seperti ruang kelas rusak, tidak adanya laboratorium, kekurangan buku ajar, dan ketergantungan listrik pada panel surya semakin memperburuk kondisi pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi manajemen pembelajaran, tantangan penyelenggaraan pendidikan, serta strategi pengembangan kompetensi guru di SD Negeri 13 Tual, Pulau Ut, Kota Tual, Provinsi Maluku. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus tunggal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap kepala sekolah dan guru, observasi lapangan, serta studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah telah melakukan berbagai upaya kreatif, antara lain penambahan jam belajar malam menggunakan televisi pintar, pembentukan kelompok kerja guru mini, serta penekanan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sebagai prioritas utama pembelajaran. Disimpulkan bahwa dibutuhkan kebijakan pendidikan yang adaptif dan responsif terhadap konteks lokal kepulauan, termasuk penambahan guru, penyediaan rumah dinas, perbaikan sarana prasarana, dan peningkatan akses internet guna mewujudnya pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan.
Copyrights © 2026