Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Manajemen Pembelajaran Di Tengah Keterisolasian: Potret Nyata Tantangan Geografis, Konflik Sosial, dan Pengembangan Kompetensi Guru Di SD Negeri 13 Tual Maria Kilmas; Rudolf Kempa; Paul Arjanto
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1220

Abstract

Penyelenggaraan pendidikan di sekolah kepulauan terpencil menghadapi persoalan serius yang bersumber dari tiga arah sekaligus, yaitu guru, siswa, dan orang tua. Keterlambatan kehadiran guru akibat jarak tempuh laut dari kota ke pulau menyebabkan pembelajaran baru dimulai sekitar pukul sembilan pagi, jauh dari jadwal yang seharusnya. Rendahnya kedisiplinan siswa, minimnya kepedulian orang tua, serta keterbatasan sarana prasarana seperti ruang kelas rusak, tidak adanya laboratorium, kekurangan buku ajar, dan ketergantungan listrik pada panel surya semakin memperburuk kondisi pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi manajemen pembelajaran, tantangan penyelenggaraan pendidikan, serta strategi pengembangan kompetensi guru di SD Negeri 13 Tual, Pulau Ut, Kota Tual, Provinsi Maluku. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus tunggal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap kepala sekolah dan guru, observasi lapangan, serta studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah telah melakukan berbagai upaya kreatif, antara lain penambahan jam belajar malam menggunakan televisi pintar, pembentukan kelompok kerja guru mini, serta penekanan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sebagai prioritas utama pembelajaran. Disimpulkan bahwa dibutuhkan kebijakan pendidikan yang adaptif dan responsif terhadap konteks lokal kepulauan, termasuk penambahan guru, penyediaan rumah dinas, perbaikan sarana prasarana, dan peningkatan akses internet guna mewujudnya pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan.
Manajemen SDM Pendidikan di Sekolah Satu Atap Kepulauan: Analisis Tantangan Geografis, Sosial Ekonomi, dan Keterbatasan Infrastruktur di SMPN SATAP 4 Tual Maria Kilmas; Rudolf Kempa; Paul Arjanto
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1221

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis manajemen sumber daya manusia pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Satu Atap 4 Tual, sekolah yang berlokasi di Pulau Ut, wilayah kepulauan terpencil Kota Tual, Provinsi Maluku. Tiga tantangan utama yang dihadapi sekolah ini meliputi hambatan geografis berupa perjalanan laut guru dari daratan ke pulau, kondisi sosial ekonomi masyarakat yang berada di bawah standar, serta minimnya infrastruktur pendidikan yang tersedia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode wawancara mendalam terhadap kepala sekolah dan guru yang bertugas di sekolah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, perjalanan laut antara daratan dan Pulau Ut berdampak pada ketidaktepatan kehadiran guru yang mengganggu efektivitas kegiatan belajar mengajar; kedua, penurunan jumlah siswa secara konsisten dipicu oleh konflik sosial di masyarakat dan rendahnya kondisi ekonomi keluarga sehingga menyebabkan meningkatnya angka putus sekolah; ketiga, ketiadaan perpustakaan, jaringan internet yang tidak memadai, dan pasokan listrik yang tidak stabil menghambat pelaksanaan program literasi dan numerasi; serta keempat, partisipasi orang tua yang tinggi dan dukungan bantuan operasional sekolah daerah dari pemerintah menjadi kekuatan sosial penting bagi keberlangsungan sekolah. Penelitian menyimpulkan bahwa manajemen sumber daya manusia di sekolah kepulauan memerlukan kebijakan afirmatif yang kontekstual, penguatan infrastruktur dasar yang mendesak, serta program pengembangan kompetensi guru yang berkelanjutan dan disesuaikan dengan kondisi lokal.
Transformasi Manajemen Sarana Prasarana Dan Relasi Eksternal Sebagai Determinan Daya Saing FKIP Universitas Satya Wiyata Mandala Di Era Disrupsi Digital Maria Goreti Kilmas; Rudolf Kempa; Paul Arjanto
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1266

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi manajemen sarana prasarana dan relasi eksternal sebagai determinan daya saing Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Satya Wiyata Mandala di era disrupsi digital. Masalah yang melatarbelakangi penelitian ini adalah kondisi sarana prasarana yang belum optimal, sistem informasi akademik yang masih manual, serta perlunya penguatan kemitraan eksternal sebagai pilar daya saing institusi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pimpinan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang mencakup delapan tema: kondisi sarana prasarana, pengelolaan sarana prasarana, relasi eksternal, pengelolaan relasi eksternal, masalah dan kesenjangan, transformasi yang dilakukan, dampak terhadap daya saing, serta refleksi dan visi ke depan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, sarana prasarana berada dalam fase transisi transformasi digital, ditandai oleh optimalisasi laboratorium teknologi informasi dan pengembangan sistem informasi manajemen akademik, namun perpustakaan dalam kondisi rusak dan sistem informasi akademik masih berjalan manual; kedua, relasi eksternal memiliki fondasi kuat dengan tiga belas sekolah mitra aktif, kemitraan strategis internasional, dukungan tujuh pemerintah kabupaten, dan alumni sebagai mitra strategis; ketiga, transformasi kedua pilar tersebut berfungsi sebagai determinan daya saing yang tercermin dari pengakuan kompetensi digital lulusan dan keterlibatan mahasiswa dalam program nasional. Hambatan struktural utama adalah keterbatasan anggaran dan ketergantungan pada yayasan. Penelitian menyimpulkan bahwa ekosistem kemitraan eksternal yang telah terbangun perlu dikonversi menjadi sumber daya yang mendukung percepatan transformasi digital sarana prasarana.