Mikroorganisme yang terdapat di dalam rongga mulut dapat menyebabkan penyakit pada jaringan keras dan lunak rongga mulut. Salah satu mikroorganisme tersebut adalah bakteri S. mutans yang menjadi etiologi karies gigi. Tembaga (Cu) merupakan salah satu agen kimiawi untuk mengendalikan pertumbuhan mikroorganisme. Tembaga dapat digabungkan dengan zeolit sebagai material antibakteri. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi Cu di dalam Cu-zeolit alam terhadap daya antibakteri pada S mutans. Penelitian dilakukan dengan menbuat 5 kelompok konsentrasi Cu-zeolit, yaitu kelompok 0,05M, 0,1M, 0,15M, 0,2M, dan 0,25M. Serbuk zeolit 100 mesh diaktivasi pada suhu 200 °C selama 1 jam. Larutan CuCl2 dengan konsentrasi 0,05M hingga 0,25M dibuat masing-masing dengan volume 80 mL. Cuzeolit dibuat dengan mereaksikan serbuk zeolit 2 gr dengan larutan CuCl2 80 mL selama 1 jam pada suhu 100 °C, kemudian disaring, dicuci, dan dikeringkan dalam oven dengan suhu 100 °C selama 24 jam. Bakteri S. mutans (0,1 mL x 108 CFU/mL) ditanam dalam media padat MHA, kemudian Cu-zeolit (30 mg) dimasukkan dalam sumuran pada media agar dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37 °C (n=5). Diameter zona translusen diukur dengan jangka sorong digital (0,01 mm). Data yang diperoleh dianalisis dengan anava 1 jalur dan HSD dengan taraf siknifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan rataan zona translusen adalah 0 mm (kelompok 0,05M), 16,03 \pm 0,47 mm (0,10M), 16,45 \pm 0,91 mm (0,10M), 18,080,39 mm (0,20M), dan 18,26 + 0,68 mm (0,25M). Uji anava menunjukkan konsentrasi Cu dalam Cu-zeolit alam 0,10M hingga 0,25M berpengaruh secara bermakna terhadap zona translusen S. mutans (p0.05). Kesimpulan penelitian ini adalah konsentrasi Cu dalam Cuzeolit alam berpengaruh terhadap daya antibakteri pada S. mutans. Konsentrasi Cu 0,01M dalam Cu-zeolit alam telah memiliki daya antibakteri terhadap S. mutans dan daya antibakteri tertinggi pada kelompok konsentrasi 0,20M.
Copyrights © 2010