Cabai (Capsicum annuum) merupakan komoditas hortikultura strategis di Indonesia yang fluktuasi harganya kerap membebani pengeluaran rumah tangga, sementara sebagian besar lahan pekarangan domestik justru dibiarkan tidak produktif meski berpotensi menopang ketahanan pangan keluarga. Di sisi lain, lulusan perempuan perguruan tinggi menghadapi tantangan ganda berupa persaingan kerja formal dan minimnya bekal kewirausahaan terstruktur sebelum kelulusan. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana praktik pembibitan cabai dalam polibag selama dua bulan mampu memberdayakan mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) As-Sunnah melalui penumbuhan karakter wirausaha dan efektivitas kerja sama kelompok triadik, sekaligus mengaitkan capaiannya dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Kegiatan dilaksanakan melalui pendekatan action learning yang dipadukan dengan prinsip Participatory Action Research (PAR), terbagi dalam tiga tahap pra-pelaksanaan, pelaksanaan, dan pasca-pelaksanaan yang diikuti oleh 23 kelompok mahasiswi beranggotakan tiga orang dengan rotasi tugas berkala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh kelompok berhasil mempertahankan kelangsungan hidup tanaman hingga minggu kedelapan, dengan 61% tanaman mencapai standar pertumbuhan ideal meski sempat mengalami transplanting shock pada fase pemindahan ke polibag individu, serta bibit berusia dua bulan telah memiliki nilai jual menjanjikan di pasar lokal dengan modal yang minim. Praktik ini berhasil menumbuhkan enam karakter wirausaha dan lima elemen kerja sama kelompok, sekaligus memperkuat self-efficacy mahasiswi menuju kemandirian ekonomi pasca-kelulusan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembibitan cabai skala rumahan merupakan model pemberdayaan yang efektif, berbiaya rendah, dan dapat direplikasi, selaras dengan SDGs 1, 2, dan 8; disarankan kelanjutan program hingga tahap panen serta replikasi dalam skala produksi yang lebih besar.
Copyrights © 2026