Penelitian ini mengkaji dampak multidimensional penggunaan bahasa ibu terhadap perkembangan kemampuan berbahasa Indonesia siswa kelas III pada konteks sekolah dasar multibahasa di Sulawesi Tenggara. Berpijak pada Teori Kontak Bahasa (Weinreich, 1953), Teori Behavioristik Pemerolehan Bahasa (Skinner), dan Kerangka Interaksionisme Vygotsky, penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi di SDN 7 Mawasangka Tengah, Kabupaten Buton Tengah. Temuan menunjukkan bahwa dominasi penggunaan bahasa daerah Buton di lingkungan rumah dan sekolah menciptakan ekosistem bilingual yang terpolarisasi, yang secara bersamaan menghambat sekaligus memfasilitasi perkembangan bahasa Indonesia. Secara negatif, dominasi bahasa ibu membatasi penguasaan kosakata bahasa Indonesia, memicu fenomena campur kode dan alih kode yang masif, mengurangi partisipasi berbicara aktif, dan membatasi pemahaman terhadap instruksi akademik. Secara positif, bahasa ibu berfungsi sebagai jembatan kognitif, meningkatkan rasa nyaman dan kepercayaan diri siswa, serta melestarikan identitas budaya lokal. Studi ini berargumen bahwa dikotomi antara pelestarian bahasa ibu dan pengembangan bahasa Indonesia merupakan dikotomi palsu, dan mengadvokasi Pedagogi Transisi Bilingual yang memanfaatkan bahasa ibu sebagai perancah kognitif. Temuan berkontribusi pada bidang pendidikan bahasa di kawasan multibahasa serta menawarkan implikasi praktis bagi guru, pimpinan sekolah, dan pemangku kebijakan pendidikan.
Copyrights © 2026