Stasiun Surabaya Gubeng merupakan salah satu simpul transportasi utama yang memiliki nilai historis sebagai bangunan cagar budaya, namun menghadapi tantangan dalam mengakomodasi kebutuhan transportasi modern tanpa menghilangkan identitas sejarahnya, sementara kajian arsitektur kontekstual pada bangunan adaptive reuse stasiun kereta api di Indonesia masih terbatas dan belum banyak mengintegrasikan aspek visual dan fungsional secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan Stasiun Gubeng melalui pendekatan arsitektur kontekstual yang mempertimbangkan aspek fisik, sosial, dan budaya kawasan. Metode penelitian dilakukan secara kualitatif dengan teknik studi preseden dan analisis deskriptif-komparatif pada King's Cross Railway Station dan Stasiun Jatinegara untuk mengeksplorasi pola integrasi bangunan bersejarah dengan fungsi modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi infill development dan konsep mixed-use dapat diterapkan pada Stasiun Gubeng melalui penataan massa baru yang selaras dengan skala dan karakter visual bangunan lama, serta penambahan program ruang publik yang meningkatkan aksesibilitas dan aktivitas kawasan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan arsitektur kontekstual mampu menjembatani pelestarian nilai historis dan kebutuhan fungsi modern secara berkelanjutan pada bangunan stasiun cagar budaya.
Copyrights © 2026