Penelitian ini mengkaji dekonstruksi identitas gender di era digital melalui pendekatan hermeneutika filosofis terhadap pemikiran Judith Butler. Penelitian bertujuan menganalisis konsep gender performativity beserta konsep citationality dan iterability, serta menjelaskan relevansinya dalam budaya digital kontemporer dan implikasinya terhadap kesetaraan gender dan inklusi sosial (GESI). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Data primer diperoleh dari karya Judith Butler Gender Trouble dan Bodies That Matter, sedangkan data sekunder berasal dari buku dan artikel ilmiah mengenai poststrukturalisme, budaya digital, dan teori gender. Analisis dilakukan menggunakan hermeneutika filosofis Paul Ricoeur melalui interpretasi kritis terhadap teks dan konteks digital kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gender dipahami Butler sebagai konstruksi sosial yang dibentuk melalui tindakan performatif yang berulang. Di era digital, performativitas tersebut dimediasi oleh representasi visual, interaksi virtual, dan algoritma media sosial yang berfungsi sebagai bentuk kuasa diskursif baru dalam membentuk maupun membatasi ekspresi identitas gender. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Butler tetap relevan untuk menjelaskan transformasi identitas digital sekaligus membuka refleksi kritis mengenai keadilan algoritmik, kesetaraan gender, dan inklusi sosial, meskipun tetap memerlukan dialog dengan perspektif biologis, filosofis, dan teologis.
Copyrights © 2026